Ditulis oleh: (Chamzawi Pemerhati masalah politik, sosial dan keagamaan) 

 HaloBojonegoro.com – Mesir adalah sebuah negara yang sangat beruntung, karena disebut dalam al-Qur’an, sebagaimana diberitakan dalam surat Yusuf ayat 1-111, yang bercerita banyak tentang kisah Nabi Yusuf as.   Di negeri ini diturunkan banyak nabi, seperti Nabi Syuaib as, Musa as, Harun as, dan Yusuf as. Mesir dikenal dengan kisah Fir’aun yang dikutuk Allah s.w.t. karena mengejawantahkan diri sebagai Tuhan, dan piramid sebagai obyek wisata yang sangat terkenal dan mendunia. Namun semua itu tak membuat Mesir sebagai negeri elok tak punya cacat, cacatnya sangat banyak sekali, dan dimulai ketika Fir’aun  berkuasa.

Cacat  ini terus berlanjut, ketika Raja Farouk berkuasa. Raja Farouk berkuasa pada  tahun 1936. Mewarisi pemerintahan ayahnya Raja Fuad pada usia 16 tahun. Dia hidup sangat mewah dengan lusinan istana, ratusan mobil dan sering melancong ke Eropa untuk belanja. Tidak hanya itu saja, setelah dewasa Raja Farouk ketika mengadakan kunjungan resmi ke Iran mencuri pedang adat Shah Iran dan ketika ke Inggris mengambil jam kantong berharga milik Winston Churchill, hingga dia dijuluki ‘pencuri dari Kairo’. Akibat penyalahgunaan kekuasaan dan kalah perang Arab – Israel pada tahun 1948, maka Raja Farouk dikudeta oleh Gamal Abdul Nasser pada tanggakl 23 Juli 1952.

Tanggal ini dikenal dengan revolusi Mesir. Tanggal 23 Juli amat bermakna bagi bangsa Mesir, serupa dengan 17 Agustus di Indonesia yang setiap tahun diperingati sebagai tonggak  sejarah negara modern dan berdaulat. Berbeda dari Indonesia yang “hari keramat”-nya diadopsi dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Mesir menetapkan “hari keramat”-nya pada Revolusi 23 Juli 1952, yakni peralihan dari kerajaan menjadi republik. Mesir sendiri memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 28 Januari 1922, namun tanggal itu tidak pernah diperingati rakyat Mesir. Kedutaan Besar Mesir di Jakarta secara khusus merayakan 23 Juli itu dengan menggelar resepsi diplomatik di kantor perwakilannya di Jalan Teuku Umar setiap tahun. Biasanya yang hadir adalah kalangan pejabat Indonesia, pengusaha, budayawan dan wartawan serta para duta besar negara sahabat Mesir. Dalam bukunya “Al_Tsaurah Al-Masriyah (Revolusi Mesir)”, sejarawan Mesir Prof. Dr. Fahmi Sobhy mengisahkan bahwa Revolusi 1952 itu diawali dari kudeta tak berdarah yang diprakarsai beberapa perwira muda Angkatan Darat pimpinan Letnan Kolonel Gamal Abdel Nasser. Nasser dan rekan-rekannya dari kalangan perwira muda yang menamakan diri “Gerakan Perwira Bebas” itu berupaya menumbangkan Raja Farouk dan menghapus konstitusi monarki. Keberhasilan revolusi Mesir menginspirasi sejumlah negara Asia dan Afrika untuk menumbangkan apa yang disebut sebagai “rezim korup”.

Inilah awal mula sejarah kudeta di Mesir, dan kelihatannya perilaku kudeta  sudah menjadi karakter dan budaya pemerintahan, pemimpin militer dan rakyat di sana. Husni Mubarrak digulingkan oleh rakyatnya, dan terakhir, Presiden Mursi dari Ikhwanul Muslimin, yang terpilih melalui pemilu yang sah, dikudeta oleh militer pada hari Rabu malam, 3 Juli 2013..

Kudeta memalukan, kita sebut demikian, karena Mursi dipilih secara demokratis oleh rakyat Mesir dan berasal dari sipil. Hampir semua Presiden Mesir, setelah Raja Farouk dikudeta, berasal dari militer, sejak dari Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat dan Husni Mubarrak.  Militer yang mengatasnamakan rakyat melakukan perebutan kekuasaan dengan semena-mena. Metro TV menyebutnya sebagai ‘kelam dan hilangnya demokrasi di Mesir’. Seharusnya Mursi diturunkan secara demokratis melalui pemilu atau dimakzulkan, bukan dipaksa turun melalui jalan kudeta.  Sebenarnya pemerintahan sah Presiden Mursi disebut sebagai Revolusi Mesir kedua, yang dimulai awal tahun lalu dan  telah mengantar seorang anak petani menjadi presiden. Ia memang belum lama terpilih sebagai presiden. Namun, seabrek pelajaran berharga sudah bertaburan darinya. Pidato yang ia sampaikan sarat dengan petuah yang patut diteladani oleh pengelola republik Mesir. Mursi mengajarkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Ia menempatkan diri bukan sebagai penguasa, melainkan pelayan. Ia menempatkan toleransi di atas segala-galanya. Ia mengubur dalam-dalam perbedaan. Mursi tak hanya dikenal sebagai akademisi yang merampungkan program doktoralnya di University of Southern California. Ia juga sosok sederhana yang religius. Ia menjadi presiden pertama yang hafal Alquran 30 juz. Tak hanya dirinya, istri dan lima anaknya juga hafal 30 juz Alquran.Mursi tercatat sebagai Presiden Mesir pertama yang hafal Alquran. Pria bernama lengkap Mohammed Mursi Issa Ayyat menjadi Presiden ke-5 Mesir yang menjabat sejak 30 Juni 2012. Mursi menjadi Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005 dan seorang tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin.Sejak 30 April 2011, dia menjabat Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012. Pada 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Mursi memenangkan Pemilu Presiden dengan mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Hosni Mubarak. Komisi Pemilihan menyatakan Muorsi memperoleh 51,7 persen suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3 persen. Pria yang pernah merasakan dibalik jeruji ketika pemerintahan Anwar Saddat dan Hosni Mubarak ini dikaruniai 5 orang anak dan 3 orang cucu. Rabu (3/7) malam, Militer Mesir menahan Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis itu.

Militer, Sekuler dan Islam Garis Keras

Mesir dikuasai oleh 3 (tiga) kelompok besar dalam perjalanan pemerintahan dan politik, yaitu militer, sekuler dan Islam garis keras. Sejak Raja Farouk dikudeta oleh Gammal Abdul Nasser tahun 1952, ketiga kekuatan tersebut saling berlomba untuk menguasai Mesir, namun hanya militer yang benar2 kuat dan mempunyai infrastruktur   di seluruh negeri. Peran militer dalam perang melawan Israel dan berhasil mengembalikan jazirah Sinai ke pangkuan Mesir adalah menjadi bukti bagaimana tangguhnya militer Mesir. Dan sudah barang tentu, militer tak akan rela apabila kekuasaan dalam negeri dikuasai oleh ‘sipil’. Terbukti, Mursi adalah satu2nya presiden dari sipil yang tak bertahan lama dan segera dijatuhkan, karena dianggap tak mampu dan malah dianggap ‘menghasut’ rakyat. Tentu saja Militer Mesir mendapat dukungan dari kalangan ‘sekuler’ yang memang tak pernah setuju dengan naiknya Mursi, yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, yang dianggap Islam garis keras,  menguasai Mesir. Apalagi ketika Mursi pada bulan2 pertama terpilihnya sebagai Presiden Mesir, mengeluarkan Dekrit, yang dianggap akan memperkuat cengkeraman Ikhwanul Muslimin di bumi Mesir. Ikhwanul Muslimin memang  telah memperjuangkan eksistensinya selama 80 tahun, baik secara terang2an maupun sembunyi2 (bawah tanah). Bahkan pendiri Ikhwanul Muslimi yaitu Hasan Al-Bana dan Sayyed Qutub, syahid, dibunuh kaki tangan penguasa rezim militer.

Terlepas dari kemelut politik yang dapat dipastikan tak akan pernah ada ujungnya, menunjukkan kepada kita, bahwa bangsa Mesir yang sebagian besar kekuasaan politiknya ada di tangan militer tak akan pernah ‘dewasa’ dalam menterjemahkan ‘demokrasi’. Militer tak akan pernah rela bila keuasaan pemerintahan dan negara ada di tangan sipil. Latar belakang, bahwa militer Mesir telah menyelamatkan negara dari kekuasaan korup Raja Farouk dan perseteruannya dengan negara Yahudi Israel, adalah langkah justifikasi atau pembenaran perilakunya yang sangat tidak demokratis. Yang sangat memalukan adalah, ketika Husni Mubarrak yang sudah tua, sakit2an,   korup dan berasal dari kalangan militer telah didesak jutaan rakyatnya di lapangan Tahrir untuk mundur, namun militer terkesan menunda-nunda, tak melakukan kudeta. Ini menjadi bukti kuat, bahwa militer Mesir memang ingin menjadi nomor satu di Mesir.

Adapun peran sekuler dalam kudeta yang dilakukan oleh militer, sangat jelas. Mereka   dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Hamdeen Sabbahi, Amr Musa, dan Muhammad el-Baradai (mantan Ketua Badan Tenaga Atom Internasional)   mendukung tindakan militer. Kaum sekuler, liberal, sosialis, dan fulul (orang-orang dari rezim mantan Presiden Husni Mubarak)  berkolaborasi dengan militer. Yang penting bagaimana  seorang presiden yang dipilih secara demokratis, lantaran memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam pemerintahannya dapat diajtuhkan dengan cepat dan tak bertele-tele. Yang aneh adalah Grand Mufti Al Azhar, Ahmed el Tayeb, yang jelas2 bukan dari kalangan sekuler, ikut berada di belakang ‘kudeta’ Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdel Fattah el Sissi. Negara2 Arab, termasuk Saudi Arabia mendukung kudeta. Qatar adalah satu2nya negara Arab yang diam dan tak mendukung tindakan kudeta yang dilakukan militer di Mesir. Demikian juga negara2 barat, termasuk Amerika Serikat dan PBB menentang langkah militer Mesir yang sangat tidak populer ini. Turki juga yang Perdana Menterinya berasal dari kalangan Islam, yaitu Recep Tayyib Erdogan juga sangat mengecam langkah militer Mesir yang melakukan kudeta terhadap pemerintahan sipil yang sah dan dipilih rakyat. “Kudeta itu jahat. Kudeta mengorbankan rakyat, masa depan, dan demokrasi. Saya ingin ini diungkapkan oleh semua orang dengan keberanian. Saya terkejut dengan sikap Barat. Parlemen Eropa mengabaikan nilai-nilainya sendiri dengan tidak menyebut intervensi militer di Mesir sebagai kudeta. Ini adalah tes ketulusan dan Barat telah gagal.” Para pengamat mengatakan ada implikasi diplomatik yang signifikan bagi Turki dengan tergulingnya Presiden Mesir. Menurut kolumnis diplomatik Kadri Gursel dari harian Turki Milliyet, Erdogan melihat akar Islamis Morsi yang kuat sebagai investasi yang baik secara politik, memberi kedua negara pengaruh diplomatik yang lebih luas di seluruh kawasan.

“Tergulingnya Morsi akan memberi dampak psikologis yang berat pada pemerintah Turki. Apa yang disebut kebijaksanaan besar dalam membangun tatanan regional baru dengan rezim-rezim Islam pasca pergolakan Arab, terutama Mesir, Tunisia, Libya, dan dalam hal ini masa depan Suriah, juga dilihat sebagai faktor penentu. Jadi tatanan baru regional, kecuali pelaku asing di kawasan, semua ini, sudah hilang,”

Mesir memang mengikuti negara2 Afrika lainnya dalam perebutan kekuasaan, karena mereka tak pernah dewasa dalam menterjemahkan makna demokrasi. Sekuler di bumi Mesir memang  kuat dan mayoritas anggotanya dikuasai oleh para intelektual, baik yang berasal dari Universitas Al-Azhar maupun universitas2 lain. Di samping itu, peran Gereja Koptik, juga sangat signifikan sebagai ‘pressure group’. Dunia menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya di Mesir, namun apa yang terjadi di lapangan, pendukung Presiden Mursi tak akan pernah tinggal diam, mereka berani mati syahid membela pemimpinnya yang ‘didzolimi’ oleh militer dan sekuler.

Bagaimana dengan Indonesia !

Kudeta itu bisa menginspirasi negara mana saja, dan bak teori domino, makhluq satu ini bisa menginspirasi penguasa2 militer, khususnya di negara2 berkembang. Militer biasanya tidak menyukai supremasi sipil, jikalau suatu negara belum ada ‘people power’ dan regulasi yang mengatur peran militer dalam suatu pemerintahan sipil, seperti Pilipina dan Indonesia, belum diatur !

Indonesia, baru sekali terjadi,  bukan kudeta, tapi peralihan kekuasaan secara halus yang dilakukan Angkatan Darat pada tahun 1966, melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar), dari pemerintahan sipil Soekarno ke Panglima Angkatan Darat, yang ketika itu dipegang oleh Soeharto. Beliau berkuasa selama hampir 35 tahun lamanya di Indonesia. Kekuasaan Soeharto berakhir pada era Reformasi tahun 1998, yang ketika itu dipelopori oleh Amien Rais. Pemerintahan kembali ke tangan sipil, dan pelimpahan kekuasaannya ke tangan Wakil Presiden saat itu, yang kebetulan dari sipil, yaitu BJ Habibie. Setelah era reformasi ini, perjalanan bangsa Indonesia terasa nyaman dan penuh kenikmatan demokrasi yang di idam2kan kaum sipil. Hampir seluruh regulasi produk lama direvisi, baik Undang-undang Dasar, Undang2, maupun regulasi di bawahnya. Pemilu diselenggarakan setiap 5 tahun sekali, baik pemilu untuk memilih wakil rakyat maupun memilih presiden dan wakil presiden baru. Demokrasi kelihatan sudah terstruktur, tertata, dan sangat transparan. Militer punya peran signifikan, yaitu membela negara dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari serangan dan ancaman musuh. Militer benar2 dikembalikan kepada fungsinya, kembali ke barak dan sama sekali tak ada peran politik dalam pemerintahan. Luar biasa Indonesia. Dengan demikian, rakyat Indonesia, dapat tidur dengan nyenyak, karena perilaku kudeta sebagaimana dilakukan oleh negara2 Afrika dan terakhir Mesir yang terjadi tanggal 3 Juli 2013 yang lalu, tak akan terjadi di Indonesia. Kudeta adalah makhluq jahat, dan hanya dilakukan oleh negara atau bangsa yang benar2 belum dewasa dan tak cerdas memaknai demokrasi. Sekali lagi, tindakan kudeta di Mesir yang dilakukan oleh militer, sangat memalukan dan naif.

Komentar :